Kisah Haru Ibu Lubuklinggau Curhat ke Dedi Mulyadi, Wakil Wali Kota: Mungkin Ingin Didengar
Cerita Lubuk Linggau- Sebuah kisah menyentuh datang dari kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan, di mana seorang ibu di Lubuklinggau bernama Dian Nurhayati rela menempuh perjalanan jauh demi menyelamatkan masa depan putranya yang terjerat narkoba. Yang menarik perhatian publik, Dian memilih menyampaikan keluhannya bukan kepada pejabat lokal, melainkan langsung kepada mantan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Langkah nekat Dian sontak menjadi perbincangan publik setelah dirinya tampil dalam kanal YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel. Dalam video tersebut, ia menceritakan betapa sulitnya berjuang menyelamatkan anaknya, Rehan (19), yang telah kecanduan sabu sejak duduk di bangku SMP. Harapannya kini tertumpu pada satu hal: memasukkan Rehan ke barak militer agar bisa mendapatkan pembinaan yang lebih disiplin dan terarah.

Baca Juga : Dedi Mulyadi Terkejut: Remaja Asal Lubuklinggau Akui Pakai Sabu Sejak SMP
Wakil Wali Kota Lubuklinggau Tanggapi Santai
Menanggapi viralnya kisah Dian, Wakil Wali Kota Lubuklinggau, Rustam Effendi, memilih bersikap tenang. Ia mengatakan bahwa pihaknya tidak mempermasalahkan jika ada warga yang memilih menyuarakan keluhan ke tokoh di luar daerah. Menurutnya, itu merupakan hak setiap warga negara.
“Saya anggap hal itu biasa saja. Mungkin memang ingin jalan-jalan, atau merasa lebih nyaman menyampaikan kepada tokoh yang dikenal publik. Yang penting aspirasinya tersampaikan,” ujar Rustam kepada awak media, Selasa (24/6/2025), dikutip dari TribunSumsel.com.
Rustam juga menyinggung kemungkinan bahwa tindakan Dian dilakukan untuk menarik perhatian, baik dari media maupun pemerintah pusat.
“Mungkin juga ingin dikenal. Tapi menurut saya, viralnya biasa saja. Tidak perlu kita risaukan, toh masih bagian dari Indonesia juga,” tambahnya.
Lebih lanjut, Rustam mengatakan bahwa Pemkot Lubuklinggau tengah menyiapkan fasilitas khusus pengaduan masyarakat, agar warga memiliki ruang yang lebih formal dan nyaman untuk menyampaikan permasalahan hidup mereka.
“Kami akan siapkan tempat khusus. Bisa untuk mengadu, bisa juga hanya menyampaikan. Kadang orang tidak ingin mengadu, tapi ingin didengar,” ungkapnya.
Jeritan Seorang Ibu: “Saya Sudah Tidak Tahu Harus ke Mana Lagi”
Video pertemuan antara Dian, Rehan, dan Dedi Mulyadi memperlihatkan sisi lain dari permasalahan sosial yang kerap tersembunyi. Dengan suara lirih dan mata berkaca-kaca, Rehan mengakui bahwa dirinya telah mengonsumsi sabu sejak duduk di bangku SMP. Ia mengaku dua kali menjalani rehabilitasi di BNN Silampari, namun tak kunjung sembuh. Setiap kali mencoba berhenti, tubuh dan pikirannya justru mengalami gangguan yang membuatnya kembali pada lingkaran gelap narkoba.
Sementara itu, sang ibu, Dian, mengisahkan betapa dirinya telah melewati masa-masa penuh tekanan. Ia pernah merasa putus asa hingga berniat mengakhiri hidup. Berat badannya turun drastis akibat stres yang berkepanjangan. Namun semuanya berubah saat ia melihat video Dedi Mulyadi tentang barak militer.
“Dari Oktober saya ikuti postingan Pak Dedi, dari situ saya merasa mungkin ini satu-satunya harapan. Mungkin di barak, anak saya bisa berubah, bisa dibina jadi orang yang lebih baik,” ujarnya penuh harap.
Dian juga sempat memohon bantuan finansial serta pekerjaan untuk Rehan setelah menjalani pembinaan. Namun Dedi Mulyadi dengan tegas menyatakan bahwa ia hanya bisa membantu memfasilitasi Rehan untuk masuk ke barak militer. Bantuan lain tidak bisa diberikan karena ia memiliki tanggung jawab prioritas terhadap masyarakat Jawa Barat.
“Saya harus tetap adil kepada warga saya. Kalau saya bantu semua orang dari luar Jawa Barat, nanti warga saya sendiri merasa tidak diperhatikan,” kata Dedi dalam video tersebut.
Ketimpangan Akses Layanan Sosial Jadi Sorotan
Kisah Dian Nurhayati ini membuka mata banyak orang terhadap realitas sosial yang masih terjadi di sejumlah daerah. Ketika seorang ibu harus menempuh jarak ratusan kilometer dan ‘mengadu’ ke tokoh di luar wilayahnya, itu bisa jadi cerminan adanya ketimpangan dalam akses informasi, layanan rehabilitasi, hingga sarana aduan masyarakat.
Tindakan Dian bukan semata-mata ingin viral, melainkan juga menunjukkan bagaimana rasa frustasi dapat mendorong seseorang mencari solusi ke mana pun, asal ada harapan untuk perubahan.
Kini, harapan Dian tinggal menanti: apakah barak militer benar-benar bisa mengubah masa depan anaknya? Dan mampukah pemerintah daerah memberikan respon nyata terhadap warganya yang merasa terpinggirkan?





