Indosat Indosat Indosat

Dedi Mulyadi Terkejut: Remaja Asal Lubuklinggau Akui Pakai Sabu Sejak SMP

Indosat

Dedi Mulyadi Terkejut: Remaja Asal Lubuklinggau Akui Pakai Sabu Sejak SMP, Sang Ibu Hampir Bunuh Diri karena Putus Asa

Cerita Lubuk Linggau- Sebuah pertemuan penuh haru dan keprihatinan terjadi di kediaman Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Seorang ibu dan anak laki-lakinya datang jauh-jauh dari Lubuklinggau, Sumatera Selatan, hanya untuk menyampaikan curhat yang sangat menyayat hati: sang anak sudah terjerat narkoba jenis sabu sejak duduk di bangku SMP.

Dedi Mulyadi yang kerap menerima berbagai pengaduan masyarakat ini dibuat terkejut dengan pengakuan sang pemuda. Dalam video yang diunggah melalui akun Instagram resminya @dedimulyadi71 pada Sabtu (21/6/2025), tampak jelas raut keterkejutan Dedi saat mendengar kisah kelam itu secara langsung.

Indosat

“Ini Ibu jauh-jauh dari Lubuklinggau ke sini ada keperluan apa?” tanya Dedi membuka percakapan dengan penuh empati.

Sang ibu, dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, menjelaskan bahwa dia hanya ingin mencari bantuan. Dia berharap ada jalan keluar agar anaknya bisa sembuh total dari ketergantungan narkoba. Ia mengaku sang anak sudah dua kali menjalani rehabilitasi di BNN, namun masih terus berjuang lepas dari jeratan sabu.

Dedi Mulyadi Terkejut: Remaja Asal Lubuklinggau Akui Pakai Sabu Sejak SMP
Dedi Mulyadi Terkejut: Remaja Asal Lubuklinggau Akui Pakai Sabu Sejak SMP

Baca Juga : Bobol Rumah Guru Demi Sabu, Pemuda Lubuklinggau Diciduk Polisi di Kebun

Pengakuan Mengagetkan: Pakai Sabu Sejak Usia Belasan Tahun

Dalam percakapan tersebut, sang anak yang kini berusia sekitar 18 tahun, akhirnya mengungkap bahwa ia mulai mengonsumsi sabu sejak duduk di kelas 1 SMP. Saat itu usianya baru 13 tahun.

“Sejak kapan kamu mulai pakai sabu?” tanya Dedi penasaran.
“Sejak kecil, Pak. SMP,” jawab pemuda itu jujur.
“Hah? SMP sudah pakai sabu? Dari siapa belinya?”
“Dari bandar, Pak. Tapi saya tidak tahu namanya.”

Ia menjelaskan bahwa dirinya biasa membeli sabu dengan harga Rp50 ribu hingga Rp100 ribu. Dalam sekali pakai, sabu yang ia dapatkan sangat sedikit, namun cukup membuatnya merasa “tenang”. Bila tidak mengonsumsi, tubuhnya terasa gelisah, terutama bagian dada yang terasa panas. Ketergantungan fisik inilah yang membuatnya sulit berhenti.

Saat ini, pemuda tersebut mengaku sudah dua minggu tidak mengonsumsi sabu karena berada jauh dari lingkungan lamanya. Ia berharap bisa lepas sepenuhnya dan memulai hidup baru.

Kisah Sang Ibu: Bertahun-tahun Berjuang Sendirian

Tak hanya sang anak yang mengalami penderitaan, sang ibu juga menyimpan luka batin yang dalam. Dalam kesempatan tersebut, ia menceritakan bagaimana dirinya harus menghadapi kondisi anaknya seorang diri. Ia mengaku hampir dua kali mencoba bunuh diri karena tidak sanggup menahan tekanan batin yang terus-menerus.

“Saya sempat mau bunuh diri, Pak. Dua kali. Tapi saya lihat anak-anak, saya jadi kuat lagi,” ujar sang ibu dengan suara lirih.

Ia mengaku tidak tahu harus ke mana lagi mencari pertolongan. Setiap hari dilaluinya dengan kecemasan, takut anaknya kambuh atau bahkan terseret ke masalah hukum yang lebih besar. Ia berharap, dengan bertemu Dedi Mulyadi, ada solusi nyata yang bisa membantu anaknya benar-benar pulih dan kembali ke jalan yang benar.

Dedi Mulyadi: Harus Diselamatkan, Bukan Dihukum

Menanggapi cerita tersebut, Dedi Mulyadi tak hanya menunjukkan empati, tapi juga memberikan semangat kepada ibu dan anak itu. Ia menyebut bahwa anak-anak seperti ini sebenarnya adalah korban dari lemahnya pengawasan dan lingkungan yang rusak.

“Kalau begini mah harus dikurung tiga tahun,” canda Dedi, mencoba mencairkan suasana yang penuh kesedihan.

Namun di balik candaan itu, Dedi menegaskan pentingnya peran keluarga dan pemerintah dalam menyelamatkan generasi muda dari bahaya narkoba. Ia juga berjanji akan membantu proses pemulihan si pemuda agar bisa mendapatkan pendidikan dan lingkungan yang lebih sehat.


Pesan Moral: Narkoba Bukan Sekadar Masalah Pribadi

Kisah ini menjadi cerminan nyata bahwa bahaya narkoba bisa menimpa siapa saja, bahkan anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah. Peran keluarga, masyarakat, dan pemerintah harus lebih kuat dan solid dalam mencegah serta menangani penyalahgunaan narkoba, terutama di kalangan remaja.

Semoga perjuangan ibu dan anak dari Lubuklinggau ini menjadi titik balik untuk sebuah harapan baru: hidup yang lebih bersih, sehat, dan penuh masa depan.

Indosat