Britania Raya Isyaratkan Akan Akui Negara Palestina, Netanyahu: “Langkah Berbahaya dan Tidak Realistis”
Cerita Lubuk Linggau — Britania Raya Ketegangan diplomatik kembali mencuat setelah Pemerintah Britania Raya mengindikasikan akan segera mengakui Negara Palestina secara resmi. Isyarat tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Inggris, David Lammy, dalam pidatonya di hadapan parlemen, menyebut bahwa “saatnya komunitas internasional mengakui realitas hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri.”
Langkah ini mendapat respon keras dan sinis dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang menilai keputusan itu sebagai “berbahaya”, “tidak realistis”, dan “tidak membantu proses perdamaian yang sesungguhnya.”
Inggris: Saatnya Dunia Mengambil Posisi
Dalam pidatonya, Lammy menegaskan bahwa pengakuan terhadap Palestina bukan sekadar gestur politik, melainkan langkah moral dan strategis untuk mendorong solusi dua negara yang adil dan lestari.
Kami tidak bisa terus menerus menyaksikan penderitaan warga sipil Palestina tanpa harapan politik. Pengakuan negara adalah langkah menuju keadilan, bukan tindakan sepihak,” kata Lammy, seraya menegaskan bahwa Inggris akan berkonsultasi dengan negara-negara Eropa lain sebelum pengumuman resmi.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya tekanan publik dan parlemen Inggris terhadap kebijakan luar negeri negara itu dalam merespons konflik berkepanjangan di Gaza dan Tepi Barat.
Baca Juga: Api Perlawanan Masyarakat Lengserkan Bupati Pati Sudewo Tak Akan Padam
Netanyahu: “Hadiah bagi Terorisme”
Menanggapi pernyataan Inggris, PM Benjamin Netanyahu langsung mengeluarkan pernyataan resmi yang bernada keras dan sinis, menyebut pengakuan terhadap Palestina saat ini sebagai langkah yang “tidak masuk akal”.
Mengakui negara Palestina sekarang adalah menghadiahi terorisme, bukan mendorong perdamaian,” kata Netanyahu dari Yerusalem.
“Anda tidak bisa memberi negara kepada pihak yang bahkan belum mengakui hak eksistensi Israel.”
Netanyahu juga menegaskan bahwa Israel tidak akan diam terhadap tekanan internasional yang “melupakan keamanan Israel dan kenyataan di lapangan.”
Dukungan Meningkat untuk Palestina di Eropa
Sikap Inggris ini bukan tanpa preseden. Irlandia, Spanyol, dan Norwegia telah lebih dulu menyatakan pengakuan terhadap Palestina pada pertengahan 2024. Langkah tersebut kemudian memicu gelombang solidaritas di Eropa dan membuka kembali perdebatan tentang peran Eropa dalam penyelesaian konflik Timur Tengah.
Jika Inggris benar-benar mewujudkan niatnya, maka itu akan menjadi negara besar pertama anggota tetap Dewan Keamanan PBB yang mengambil langkah tersebut secara eksplisit dalam beberapa dekade terakhir.
Britania Raya Reaksi Internasional Terbelah
Respons komunitas internasional terhadap kemungkinan pengakuan Inggris terbagi dua:
Negara-negara seperti Prancis, Belgia, dan Jerman menyambut baik inisiatif tersebut, meskipun masih bersikap hati-hati.
Sementara Amerika Serikat dan Australia menilai bahwa pengakuan sepihak dapat merusak proses negosiasi langsung antara Israel dan Palestina.
Di sisi lain, Otoritas Palestina menyambut baik rencana pengakuan tersebut dan menyebutnya sebagai “langkah penting dalam perjuangan panjang menuju kemerdekaan sejati”.
Britania Raya Dampak Politik Domestik dan Global
Di dalam negeri, langkah ini mendapat dukungan luas dari partai-partai oposisi dan sebagian besar warga muda Inggris. Survei yang dilakukan YouGov menunjukkan bahwa lebih dari 60% warga Inggris mendukung pengakuan terhadap Palestina sebagai negara berdaulat.
Namun, sejumlah anggota parlemen dari Partai Konservatif dan kelompok pro-Israel menyebut keputusan itu sebagai “tergesa-gesa” dan “membahayakan hubungan diplomatik”.
Penutup: Titik Balik atau Perpecahan Baru?
Apakah keputusan Inggris akan menjadi titik balik sejarah diplomatik global, atau justru membuka babak baru ketegangan geopolitik di Timur Tengah?






